![]() |
| Sumber foto: tempo.co |
-
Kesaksian Jamaah Masjid Al Noor Saat Terjadi Penembakan
Sejumlah jamaah masjid Al Noor di Kota Christchurch, Selandia Baru, menyatakan belum bisa mempercayai apa yang baru saja mereka alami.
-
Menelaah Pernyataan TGB, Benarkah Mendukung Jokowi? Jangan Salah Paham...
Panasnya konstelasi politik tahun 2019 nanti sudah sangat terasa bahkan pada saat ini. Hal ini terlihat dari masing2 calon pendukung capres yang memuji jagoannya dan tak jarang mengejek dan membully pendukung dari calon lawan, meskipun pendaftaran capres sendiri masih belum dibuka.
-
Koalisi Keumatan Usulan Habib Rizieq Dinilai Baik Untuk Kemaslahatan Bangsa
"Usulan Habib Rizieq itu memang bagus, supaya bangsa negara bisa utuh, bisa menegakkan NKRI, bangun ekonomi, demokrasi, budaya dan lainnya. Umat harus bersatu, dengan demikian negara akan solid dan maju. Umat bersatu, insya Allah bangsa maju,"
-
Pria Muslim Selamatkan Bocah 4 Tahun Dengan Aksi Heroiknya
Seorang Muslim dianggap sebagai pahlawan oleh publik Paris setelah aksinya menyelamatkan bocah yang nyaris terjatuh dari balkon lantai empat sebuah gedung viral di media sosial.
-
Menteri Ini Imbau Muslim Cuti Selama Ramadhan Agar Tak Membahayakan Masyarakat, Alasannya Aneh Sekali
Menteri Integrasi Denmark Inger Stoejberg mengimbau Muslim untuk mengambil cuti selama Ramadhan agar tidak terjadi hal yang dapat membahayakan masyarakat.
September 24, 2017
Tidak Sampai Sepekan, Hampir 3000 Orang Sudah Mendaftar Di Situs Nikah Siri
September 23, 2017
Tidak Tanggung-tanggung, TNI AL Gelar Nobar Film G30S/PKI 11 Hari Berturut-turut
![]() |
| Cuplikan Film G30S/PKI (sumber foto: republika.co.id) |
"Masyarakat saat ini harus tahu bahwa bangsa ini pernah mengalami peristiwa kelam dengan adanya peristiwa G-30-S/PKI pada 1965," ucapnya.
Nana Rukmana mengatakan bahwa TNI tidak akan pernah mentolerir kebangkitan komunisme yang telah dinyatakan sebagai bahaya laten bagi bangsa.
Ia juga mengimbau agar terus waspada dan tidak memberikan kesempatan sekecil apapun terhadap bangkitnya komunisme termasuk pikirian-pikiran yang menunjukkan gejala pro komunisme.
"Jangan pernah memberikan ruang sekecil apapun bagi kebangkitan komunisme meski itu hanya dalam pikiran agar tidak dapat menyusup dan berkembang menjadi bahaya yang besar," katanya.
September 22, 2017
Hijrah, Rian Jadikan Ahsan Panutan
![]() |
| Pasangan ganda putra Mohammad Ahsan dan Rian Agung Saputra (sumber foto: republika.co.id) |
Namun, saat seorang penggemar perempuan ingin berpose sambil diapit dua pasangan yang ini, Ahsan meminta dengan halus agar tidak bersentuhan kulit langsung. Berbeda dengan Rian, ia tampak masih belum berani menolak genggaman penggemar perempuan di lengan kanannya tersebut.
Bahkan Rian kini mengikuti langkah Ahsan dengan menggunakan legging untuk menutupi auratnya dilapangan.
Rian juga mengaku menjadi lebih tenang dalam setiap pertandingan yang dimainkan.
Bagi Rian, menerapkan ajaran Islam secara utuh masih jauh dari sempurna. Bahkan untuk wajib saja terkadang belum maksimal.
September 21, 2017
Pertanyaan Jujur Gadis 22 Tahun: Branding PKI Successful!
![]() |
| Siswa dan Guru nonton bareng film G30S/PKI di SMK Muhammadiyah- Depok (sumber foto: republika.co.id) |
Saya tercengang. Ada pertanyaan seperti itu.Paras gadis itu cantik, berkulit terang, saya pandangi. Honesty, pertanyaan yang jujur.
Saya jawab, "Ya. Benar".
Tiba-tiba saya pun sudah memperoleh kalimat opening dialog dengan Tysa Novendi. Yaitu pertanyaan gadis 22 tahun tadi.
Saya pun lalu paham makna pernyataan Panglima TNI Gatot Nurmantio, sehari sebelumnya, ditanya Karni Ilyas di ILC tentang kebenaran film G30S /PKI, "Emang Gue Pikiri", jawab Gatot.
Soal rencana merevisi film "G30S PKI" besutan Arifin C Noor itu, saya kemukakan tak bisa! Sebab, sejarah tidak bisa diubah. Kalau mau bikin, bikin baru saja. Misalnya, ayah saya ditukar dengan ayah lain. Tak bisa kan? Sejarah tak boleh diubah. Bahkan, film Arifin C Noor itu, juga telah menjadi bagian sejarah itu sendiri.
JJ Rizal narasumber, berpendapay diametral dengan saya, melihat film “G 30 S /PKI” besutan Arifin C Noor itu sebagai propaganda politik Presiden Soeharto yang kental muatan politiknya.
Saya tak setuju pendapat sejarawan Rizal. Mau dilihat dari mana flim itu? Politik, Sejarah atau Cinematografi. Minimal itu. Tak ada eksaminasi tesis sejarah, baru pendapat personal toh?
6. Pembubaran IGGI, 7. Bom Banyuwangi, dst). 8. Gerakan Salman, 9. Pompes Lampung, 10. Subversif Suwito, 11. OTB ekspor Revolusi Iran, 12. Gerakan Kejawen Ratu Adil, Krisis Diplomatik RI vs Australia, 13. Konflik FK tiga angkatan di tubuh ABRI, 14. Bredel 30 mass media, 15. Etc. Tak ada issu PKI yang menonjol. Sebelum tahun-tahun itu ada kasus Pramoedya Ananta Toer.
Issu yang terhangat justru resesi ekonomi, di mana Soeharto merumahkan Bea Cukai diganti SGS. Politik juga sudah tenang, Golkar menang mutlak.
Masalahnya, order film itu dari PPFN. Kerjaan Pak Dipo (G Dwipayana). Ide dasarnya semacam film biografi Presiden Soeharto. Yang terlbat juga orang yang punya trust, Umar Kayam, Syubah Asa (majalah Tempo), sejumlah dosen terkemuka dari ISI Yogya. Ya, bicara Soeharto yang paling monumental adalah perannya dalam pemberantasan Gestapu PKI. Ikutan dengan film ini “Jakarta 66”. Suasana Orba memang sejak awal militeristik akibat dwi fungsi ABRI. Itu adanya. Namanya saja politik militer Indonesia.
Bicara sejarah, film itu pun sudah sejarah. Fakta hukum bahwa ada enam jenderal terbunuh di Gestapu PKI. 'Ya misalnya nanti dikatakan yang dibunuh di Lobang Buaya itu ayah saya, bukan para jendral itu. Ini kan jelas tidak bisa bukan?"
Isu PKI pada saat pembuatan fim Arifin C Noer ini sudah tidak ada. Sebab, fakta yang muncul kala itu adalah aksi atau gerakan yang lakukan kubu kanan. Dan ini munculnya sebagai imbas balik dari kelanjutan pemaksaan ideologi asas tunggal. Sekali lagi, pada saat itu itu yang ada gerakan Komando Jihad dan penculikan pesawat garuda Woyla, ada pengeboman BCA di Jakarta, pengeboman Bodorudur, pelarangan pemakaian jilbab, hingga Peristiwa kerusuhan Tanjung Priok.
Silahkan saja bikin film baru dan kita lihat seperti apa film itu. Apa nanti di film itu sang sutradara berani mengganti sosok Aidit, sosok Ahmad Yani, atau sosok yang ada di film itu dengan sosok lainnya. Atau juga apa nanti berani mengatakan bahwa PKI tidak bersalah karena para tokohnya tak terkait dalam aksi pembunuhan dan kudeta di malam Jumat kliwon 30 September 1965 itu.
Maka itulah harus dipaahami, kalau bicara film 'Pengkhianatan G 30 S PKI' sebagai sejarah, maka film itu pun bersama kebenaran yang ada di dalamnya sebagi sejarah.
Dan kalau pun film baru itu nanti disebarluaskan oleh pihak penguasa atau pihak pendukungnya sebagai bukan film proaganda, atau beda dengan film G 30 S PKI-nya Arifin, maka esensinya film baru juga sama saja, yakni merupakan propaganda.
Dalam soal film memang harus ingat pesan dari seorang diktaror Soviet,Joseph Stalin. Dia secara nyata menyakini bila film itu merupakan media paling efektis untuk merubah isi otak manusia!
Alhasil, dengan menemui langsung adanya seorang gadis berusia berkulit terang dengan usia sekitar 22 tahun yang mempertanyakan kebenaran film Pengkhianatan G30S PKI, di situlah saya menjadi yakin: Branding PKI telah succesful!
Akhirnya, saya pun kini mengerti mengapa Panglima TNI bersikap seperti itu!
Anaknya Dituduh Terlibat Narkoba, Duterte: "Jika Ada Anak-anak Saya Yang Terlibat Narkoba, Bunuh Mereka Hinga Orang Lain Tidak Mampu Berkata-kata
![]() |
| Presiden Filipina Rodrigo Duterte (sumber foto: Philstar.com) |
Paolo sendiri yang juga merupakan seorang politisi telah membantah tudingan bahwa ia adalah anggota mafia yang membantu menyelundupkan narkoba jenis crystal meth asal China.
Presiden Duterte menegaskan, anak-anaknya akan menghadapi hukuman paling keras jika mereka melakukannya.
"Saya sampaikan sebelumnya 'Jika ada anak-anak saya yang terlibat narkoba, bunuh mereka hingga orang lain tidak mampu berkata-kata," ujar Duterte seperti dikutip dari liputan6.com (21/9/17).
"Jadi saya katakan kepada Pulong (nama panggilan Paolo): 'Perintah saya adalah membunuh Anda jika Anda tertangkap. Dan saya akan melindungi polisi yang melakukannya, jika itu benar'," imbuhnya.
Sumber: liputan6.com
September 18, 2017
FPI Dan Umat Budha Bersatu Menggalang Dana Untuk Rohingya
![]() |
| Relawan FPI (sumber foto: riaupotenza.com) |
Liu Licen alias Elen Veronica (17), seorang umat buddha mengaku akan terus ikut menggalang dana bersama Relawan Inhu untuk membantu warga pengungsi Rohingya.
"Kami mengecam tindakan pemerintah dan militer myanmar terhadap umat Muslim Rohingya, ini sangat bertentangan dengan ajaran buddha," kata Liu, seperti dilansir dari merdeka.com (17/9/17).
Saat menggalang dana, Liu Licen juga menyerukan kepada warga Tionghoa khususnya umat buddha agar tidak takut bergabung bersama ormas umat Muslim seperti FPI, karena menurutnya FPI sangat terbuka menerima umat lainnya bergabung dalam misi kemanusiaan.
"Kami berterima kasih kepada FPI yang telah menerima kami dengan baik ikut berpartisipasi dalam aksi sosial membantu pengungsi Rohingya ini," ujarnya.
Sebelumnya aksi Gerakan Masyarakat Peduli Rohingya (GEMPUR) bersama FPI dan mahasiswa di kota Rengat, berhasil mengumpulkan dana mencapai Rp 100 juta lebih, kemudian aksi tersebut dilanjutkan gabungan Ormas dan OKP bersama FPI yang tergabung dalam Relawan Inhu dan telah menggalang dana mencapai puluhan juta rupiah.
Polemik Film G30S/PKI, Panglima: 'Perintah Saya, Mau Apa Memangnya'
![]() |
| Jenderal Gatot Nurmantyo (sumber foto: tempo.co) |
"(Ya) Perintah saya, mau apa memangnya," jawab Gatot Nurmantyo saat dikonfirmasi wartawan terkait instruksi gerakan nonton bareng film G30S/PKI di seluruh jajaran hingga tingkat Kodim-Koramil-Babinsa, usai ziarah Makam Proklamator Soekarno di Blitar, seperti dilansir dari merdeka.com (18/9/17).
Gatot mengulang argumentasinya dengan menyatakan bahwa instruksi nobar film G30S/PKI adalah upaya TNI dalam meluruskan sejarah.
"Kalau selama ini meluruskan sejarah, menceritakan sejarah tidak boleh, mau jadi apa bangsa ini?" kata dia.
Gatot kemudian mengutip kalimat bijak yang pernah dipopulerkan oleh tokoh proklamator sekaligus Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno.
"Di makam ini, Bung Karno pernah mengatakan, jangan lupa 'Jas Merah'. Jangan lupa jasa-jasa pahlawan," ucapnya.
Sumber: merdeka.com












