December 18, 2017

Mobil Hanyut Terseret Derasnya Arus Sngai Brantas, Bocah 8 Tahun Berhasil Diselamatkan

foto: tribunnews.com
Gema Indonesia - Sebuah mobil hanyut terseret derasnya arus sungai Brantas Mojokerto pada Senin (18/12/17) siang. Di dalam mobil tersebut terdapat dua orang yang menjadi korban yaitu Supo (50) dan keponakannya Helmi Abdillah (8). Mereka warga dusun Gamping, Desa Gampingrowo, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo.

Awalnya mereka makan di warung yang terdapat di Sepanjang Jalan Rolak 9. Selesai makan mereka berencana pulang rumah. Belum diketahui sebabnya, mobil yang dikendarai Supo malah menerobos pagar pembatas di bibir Sungai Brantas. Akibatnya mobil terjun ke dalam sungai dengan arus yang sangat deras.


Kejadian itu disaksikan oleh dua orang nelayan di sekitar lokasi kejadian, Sujat Bianto (38) dan Juwono (55). Mobil itu terlihat terseret derasnya arus sungai di dekat pintu air.

"Sopirnya bisa keluar mobil dan mengeluarkan yang anak kecil. Anak kecilnya berpegangan di leher sopir dan mencoba menepi," ujar Sujat.

Namun derasnya air membuat keduanya terseret arus hingga genggaman Helmi terlepas. Helmi lantas terombang-ambing terbawa arus ke arah timur hingga 100 meter. Namun beruntung, posisi Helmi agak dekat ke pinggir hingga berhasil diselamatkan Sujat dan Juwono.

Namun sang paman masih belum diketahui keberadaannya.

Sumber: tribunnews.com
Share:

December 17, 2017

Meski Tanpa Kaki, Ibrahim Terus Berjuang Untuk Palestina Hingga Syahid Tiga Hari Lalu

Ibrahim Abu Thuraya (foto: merdeka.com)
Gema Indonesia - Ibrahim Abu Thuraya, 29 tahun, pejuang Palestina tanpa kaki syahid setelah ditembak di kepala oleh tentara israel ketika ikut demo di perbatasan Gaza tiga hari lalu.

Meski tanpa kaki, Ibrahim sangat bersemangat membela negaranya bahkan ia diketahui selalu menghadiri unjuk rasa di Jalur Gaza. Ia bahkan berani melakukan aksi heroik dengan memanjat tiang listrik sambil membawa bendera Palestina ketika berunjuk rasa. Dia menyebut aksinya 'melawan meski lumpuh'.


Ibrahim Abu Thuraya (foto: merdeka.com)
Pada aksi unjuk rasa yang di perbatasan Gaza yang menuntut amerika menarik keputusan soal Yerusalem sebagai ibu kota israel, Ibrahim dengan lantang menyerukan agar rakyat Palestina bergabung dalam aksi tersebut.

"Tanah ini tanah kami. Kami tidak akan menyerah. Amerika harus menarik pengumumannya," ujar Ibrahim, Sabtu (16/12/17).

"Yang terpenting adalah kami hadir di sini untuk menyampaikan pesan kepada tentara zionis, rakyat Palestina adalah orang yang kuat."


Ribuan orang turut menghadiri pemakamannya untuk mendoakan pejuang yang sering terlihat mengibarkan bendera Palestina sambil memimpin sorak-sorai perlawanan itu.


Ibrahim meninggalkan 11 anggota keluarga, termasuk enam adik perempuan dan lima adik laki-laki. Iya merupakan tulang punggung keluarga.

Ibrahim kehilangan dua kaki dan satu ginjal ketika israel melancarkan operasi militer pada 2008. Pada waktu itu tentara israel membunuh 1.400 orang dalam 22 hari.

Sebelumnya ia adalah seorang nelayan yang bisa mendapat uang dari menjual ikan hasil tangkapannya sebesar Rp 250 ribu sehari. Setelah kehilangan kaki, Ibrahim memenuhi kebutuhan keluarganya dengan mencuci mobil di Gaza di dekat tempat tinggal mereka di penampungan pengungsi yang padat.


foto: merdeka.com
Ayah dan ibunya sudah tidak mampu lagi bekerja disebabkan sakit darah tinggi dan diabetes.

Dari mencuci mobil, Ibrahim bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 3,3 juta perbulan. Uang itu dia gunakan untuk membayar listrik, air, dan rumah sewa. Itu adalah penghasilan maksimal yang bisa dia dapat sebagai orang berkursi roda.


Suatu kali Ibrahim pernah berkata kepada seorang aktivis bahwa dia tidak mau menerima uang dari pemilik mobil yang tidak memberinya pekerjaan.

"Saya bukan pengemis. Saya bisa mencari uang. Tolong jangan menilai dari tubuh saya yang cacat,"

"Lihat hasil kerja saya. Ini bukan akhir dari segalanya. Kehidupan harus terus berjalan" ujar Ibrahim.

Sumber: merdeka.com
Share:

Tanpa Senjata, Miliarder Palestina Lawan israel Dengan Pembangunan

kota Rawabih (foto: dream.co.id)
Gema Indonesia - Dibalik reruntuhan bangunan dan konflik yang terus terjadi sepanjang tahun, ternyata Palestina memiliki sebuah kota yang bersinar dan indah. Rawabi nama kota yang tengah dibangun menjadi sebuah mega proyek senilai US $1,4. Tampak deretan toko fashion di antara gedung bergaya romawi.

Bashar al-Masri, seorang milyarder berdarah Palestina berjuang melawan tiran israel, tidak dengan mengangkat senjata melainkan dengan pembangunan sebuah kota yang bersinar yang bernama Rawabi yang akan mengangkat harkat dan martabat rakyat Palestina.


Bashar al-Masri (foto:dream.co.id)
Selama satu dekade, baru 3000 orang yang tinggal di sejumlah menara di kawasan bukit sebelah utara Ramallah ini. Hingga kini pembangunan masih terus berlangsung dan diharapkan akan ada 40 ribu orang yang tinggal di kota baru ini.

"Rawabi, khususnya dalam 4-5 bulan, telah menjadi kota tujuan warga Palestina," ujar Bashar al-Masri.

Bashar al-Masri adalah seorang pebisnis di bidang properti, Massar International. Pada 2016 Kekayaannya ditaksir mencapai US$1,5 miliar.

Meskipun saat ini Masri telah menjadi seorang pebisnis yang sukses, namun masa lalunya penuh dengan perjuangan. Lahir pada tahun 1961, Masri besar di sebuah kawasan konflik Tepi Barat Nablus. Masri menghabiskan masa mudanya dengan melawan pendudukan israel yang mulai menguasai kawasan itu.

"Saat kecil, saya percaya pada kekerasan,". 

"Saya aktivis sekolah, merencanakan demonstrasi, dan menulis surat ke Sekjen PBB Kurt Waldheim," ujarnya.


Seperti pemuda Palestina lainnya, Masri juga sering melempar batu ke barisan tentara israel. Aksi ini membawanya masuk penjara pada 1975 saat berusia 14 tahun. Saat usia 16 tahun, Masri kembali masuk penjara hingga akhirnya diterbangkan ke sekolah menengah atas di Kairo, Mesir.

Masri kemudian melanjutkan studi teknik kimia dan manajemen di universitas Amerika dan Inggris. Namun saat gerakan intifada berkobar di tahun 1987, Masri pulang kampung.

"Saat periode itu, saya sama sekali tak keluar dari aksi demonstrasi. Saya lebih banyak berperan di sisi perencanaan," ungkapnya.

Usai menamatkan pendidikan, Masri merintis bisnis real estate yang mulai berkembang. Berbagai kontrak bisnis di Maroko, Libya, Yordania, dan Mesir ditanda tangani. Dia juga bekerja sebagai konsultan di London, Arab Saudi, dan Washington DC, Amerika Serikat.

Menjadi sukses dan maju di negeri orang, tak membuatnya melupakan tanah kelahiran. Dia terkenang dengan rumah masa lalunya dan memutuskan bertemu dengan beberapa teman sekolahnya. Tahun 1994 usai Oslo Accord, dan keinginan balik kampung, Masri mulai membangun mimpinya membangun Rawabi. Kota baru yang menyediakan akomodasi murah dibandingkan Ramalah serta pekerjaan bagi penduduk lokal.



penduduk kota Rawabi (foto: dream.co.id)
Awalnya, pembangunan proyek ini sempat tersendat setelah muncul gerakan intifada pada 2000. Setahun setelahnya, pembangunan kontruksi kota baru mulai berjalan. 

Bukan tanpa rintangan, beragam kritik muncul di balik niatnya membangun Rawabi. mulai dari tudingan kedekatannya denga israel. The Boycott, Divestment and Sanction Movement mengklaim masa lalu Masri digunakan untuk menjalin perjanjian dengan politisi dan pebisnis elit israel. Langkah yang dianggap upaya Masri menumpuk keuntungan dari pengeluaran orang Palestina.

Berbagai rintangan tak menyurutkan semangatnya. Impian menyediakan rumah murah dan layak serta pekerjaan masih terus diperjuangkan.

"Tak ada orang yang ingin menyakiti orang lain akan membeli apartemen dan tinggal di kota seperti ini," ujar.

Tanpa jaminan proyeknya akan menguntungkan, Masri meyakinan jika pembangunan kota seperti Rawabi akan membantu warga Palestina membangun negeri sendiri. 

"Waktu akan membuktikan jika ini adalah langkah besar untuk membangun negara kami," ujar Masri.

Sumber: dream.co.id
Share:

December 13, 2017

Kecam Pernyataan Donald Trump, 57 Negara Akui Yerusalem Timur Ibu Kota Palestina

foto: okezone.com
Gema Indonesia - Menanggapi pernyataan presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota israel pada 6 Desember lalu, beberapa negara anggota OKI mengecam pengakuan tersebut dan segera menggelar sebuah pertemuan luar biasa di Istanbul untuk menyampaikan sebuah reaksi bersama.

Puncaknya sebanyak 57 negara anggota OKI membuat pernyataan dengan mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina dalam pertemuan KTT OKI di Instanbul Turki.


"Kami menyatakan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Negara Palestina dan mengundang semua negara untuk mengakui Negara Palestina dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya," menurut pernyataan resmi usai pertemuan puncak luar biasa tersebut, Rabu (13/12/17).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang juga menjadi presiden OKI saat ini bahkan menegaskan bahwa Yerusalem adalah miliki umat Islam dan selamanya akan tetap menjadi milik umat Islam.

"Yerusalem akan selalu menjadi ibu kota Palestina. Saya menyatakan sekali lagi bahwa Yerusalem adalah garis merah kami. Haram al-Sharif, dengan 144 hektar tanahnya, Masjid Al-Aqsa dan Kubbet ul-Sahra, selamanya akan menjadi milik umat Islam," ujarnya.

Sumber: republika.co.id
Share:

December 12, 2017

Unik Dan Lucu, Rambu-Rambu Ini Menggunakan Gambar Kartun

foto: jawapos.com
Gema Indonesia - Cara unik dan kreatif dilakukan oleh Badan Penanggulanan Bencana (BPB) Linmas Surabaya dalam rangka mencegah adanya kejadian orang tenggelam di sungai. Mereka memasang rambu-rambu pada bantaran sungai Kalimas.


Uniknya rambu-rambu yang dipasang tidak seperti rambu-rambu pada umumnya. Rambu-rambu tersebut didesain dengan gambar kartun yang kece.

Setidak ada tiga model gambar kartun yang digunakan. Untuk rambu dilarang memancing menggunakan gambar kartun orang yang sedang duduk memancing di sungai, rambu dilarang menggunakan gambar kartun seorang anak kecil yang sedang berenang, sedangkan satu lagi termasuk yang paling unik yakni rambu untuk dilarang buang air besar menggunakan gambar spiderman sedang jongkok di atas batu seperti akan buang air besar.


foto: tribunnews.com
Menurut Plt Kepala BPB dan Linmas Surabaya Irvan Widyanto, pemberian peringatan tersebut untuk meminimalisir adanya kejadian orang tenggelam. Selain itu, pihaknya juga turut membantu agar kondisi sungai di Kalimas bisa terjaga.

“Kami tidak ingin ada orang tenggelam seperti yang pernah terjadi,” ujarnya.

Saat ini ada 36 titik rambu peringatan yang dipasang di sepanjang sungai Kalimas dan beberapa titik sungai dan jembatan. 

“Saat ini masih di sungai Kalimas. Kami harapkan masyarakat tidak melanggar aturan itu,” imbuhnya.

Sumber: jawapos.com
Share:

December 11, 2017

Demi Berantas Korupsi, Dua Warga Ponorogo Nekat Jalan Kaki ke Jakarta

foto: merdeka.com
Gema Indonesia - Maraknya perilaku korupsi yang terjadi di daerahnya Ponorogo dan di Indonesia membuat dua orang relawan LSM 45 Ponorogo gerah. Sambil membawa poster, Wakidi dan Pujiana nekat datang ke Jakarta dari Jawa Timur dengan berjalan kaki.

Mereka berdua mengawali aksinya pada tanggal 09 Desember 2017 bertepatan dengan hari anti korupsi sedunia. Rencananya mereka akan menemui Presiden Jokowi di Istana Merdeka serta ke gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Hingga tadi malam mereka telah sampai ke Wonogiri dan bermalam di sana, Shubuhnya mereka kembali melanjutnya perjalanan.

"Semalam kita istirahat di Wonogiri. Shubuh tadi kita berangkat lagi dan akan mampir ke rumah Pak Jokowi di Solo," ungkap Wakidi, Selasa (12/12).

Tidak main-main mereka ingin menyampaikan dugaan korupsi berupa penyalahgunaan dana desa yang terjadi di daerah mereka. Mereka berharap KPK mau turun tangan langsung menangani kasus tersebut.

"Kami ingin KPK turun gunung, saya ingin dilakukan audit ADD tiap desa di Ponorogo," ujarnya.

Keinginan ini sebenarnya sudah ingin mereka sampaikan sejak empat tahun lalu.

Sumber: merdeka.com
Share:

December 6, 2017

Atas Tudingannya, Metro TV Akhirnya Dilaporkan ke KPI

foto: mujahid-212.com
Gema Indonesia - Stasiun televisi Metro TV akhirnya dilaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) oleh Sam Aliano, Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia Muda (APIM). Hal ini terkait tudingan stasiun tv tersebut terhadap massa reuni 212 dengan mengatakan sebagai kaum intoleransi. 

Adapun tayangan yang menjadi perkara tersebut adalah pada program berjudul "Meneladani Toleransi Sang Nabi" yang ditayangkan beberapa waktu lalu. Dalam tayangan tersebut, narator menyebut bahwa para pengikut aksi Reuni 212 adalah kaum intoleransi yang merayakan kemenangan dari praktek intoleransi atas luka korban intoleransi dengan berpolitik.

"Bukti tayangan ini dalam flash disk," ujar Sam, Selasa (5/12).

Sam meminta agar komisioner KPI untuk bertindak tegas dan memberikan sanksi terhadap Metro TV. Sam ikut serta dalam kegiatan Reuni 212 tersebut. Selain dirinya, hadir juga pengacara keturunan Belanda, Inge Mangundap.


Menurut Sam kegiatan reuni 212 justru mempersatukan anak bangsa yang berbeda ras dan agama, sebab tidak hanya Islam, namun umat lain juga ada yang ikut dalam kegiatan tersebut.

"Saya adalah warga keturunan, ibu Inge adalah keturunan Belanda dan beragama Kristen. Jadi aksi 212 adalah merangkul dan mempersatukan seluruh masyarakat yang berbeda ras dan agama," papar Sam.

Diketahui kegiatan reuni 212 berjalan dengan sangat aman dan lancar. Para peserta juga saling menjaga agar tidak ada rumput yang diinjak dan tidak merusak taman. Bahkan usai kegiatan tersebut, para peserta mengumpulkan sampah hingga monas tetap bersih baik sebelum maupun sesudah reuni.

Sumber: Republika
Share:

Daftar Berita

Blog Archive

Theme Support