November 13, 2017

Asal Mula Micin Yang Tak Berdosa Dicap Sebagai Penyebab Kebodohan

micin (foto: liputan6.com)

“Duh, gitu aja nggak bisa! Kebanyakan micin sih!”

Terlepas dari sifatnya mau serius atau bercanda, pasti banyak di antara kalian yang sering mendengar atau bahkan melontarkan sendiri kalimat ejekan seperti di atas. Memangnya micin seberacun itu ya sampai-sampai sering disebut sebagai penyebab kebodohan? Apakah memang benar-benar ada penelitian soal micin yang mengatakan kalau dia terbukti bisa menyebabkan otak jadi tumpul?


Ya, citra buruk micin ini ternyata nggak main-main lho. Buktinya sampai banyak restoran yang melabeli diri mereka ‘No MSG‘. Label ini seolah-olah sama pentingnya dengan label ‘Halal’ atau ‘No Pork’, yang kalau sengaja dikonsumsi orang muslim bisa menimbulkan dosa karena melanggar apa yang diharamkan. Dan secara tak sadar digunakan sebagai patokan orang dalam memilih tempat makan. Sebelum judge macam-macam, simak dulu deh fakta kenapa awalnya micin bisa dianggap berbahaya layaknya racun ini~

Micin pertama kali diciptakan Prof. Kikunae Ikeda. Dari penelitiannya itu, ia jadi bisa menciptakan rasa kelima selain manis, asam, pahit, asin

Disebut-sebut sebagai sumber dari kebodohan manusia, micin yang bahasa ilmiahnya disebut monosodium glutamat (MSG), justru diciptakan seorang profesor asal Tokyo Imperial University Jepang, Kikunae Ikeda, pada tahun 1908. Awalnya ia terinspirasi dari masakan istrinya sendiri yang begitu lezat. Setelah ditanya ternyata ia kerap menggunakan rumput laut kering yang disebut ‘kombu’. Melarutkan kombu ke dalam air panas akan menjadikannya kaldu dashi yang memiliki rasa umami atau gurih. Rasa ini disebut-sebut sebagai rasa ke-5 setelah manis, asam, pahit, asin.

Ikeda kemudian menambahkan bahan lain seperti natrium untuk mengubah larutan itu menjadi bubuk penyedap masakan. Dari situ ia kemudian mematenkan penemuannya dan membuat Ajinomoto untuk pertama kalinya. Dan ternyata kandungan dalam MSG yaitu glutamat, sebenarnya secara alami dapat ditemukan juga di tomat, keju, permesan, jamur kering, kecap, buah dan sayur, bahkan ASI! Nah lho, kontradiktif ‘kan, ASI yang terbukti bikin bayi tumbuh lebih baik, malah ternyata ada glutamatnya. Masih berani bilang micin bikin bodoh?

Pada 1968, MSG tiba-tiba mendapat cap buruk setelah Dr. Ho Man Kwok mengirim surat tentang Chinese Restaurant Syndrom (CRS) ke sebuah jurnal kesehatan

Ternyata ‘ketakutan’ masyarakat akan micin nggak secara langsung terjadi begitu saja. Jadi ceritanya, pada 1968 ada seorang profesor bernama Dr. Ho Man Kwok yang mengklaim bahwa dirinya merasakan sakit di leher belakang hingga ke lengan dan punggung, dengan disertai lemas dan berdebar-debar setiap kali makan di restoran Cina. Konon katanya, Kwok menyalahkan MSG sebagai penyebab sindrom yang kemudian dinamakan Chinese Restaurant Syndrom (CRS) ini.

Kwok kemudian menulis surat ke New England Journal of Medicine tentang keresahannya ini. Kwok juga memperkuatnya dengan memaparkan beberapa penelitian tentang efek dari MSG. Salah satunya riset oleh Dr. John W. Olney dari Universitas Washington yang melibatkan tikus. Olney menyuntikkan MSG sebesar 4 gram/kg berat tubuh tikus. Hasilnya tikus tumbuh lebih kerdil, gemuk, dan beberapa ada yang mandul. Ya kalau dosisnya sebesar itu nggak kaget kalau malah jadi membahayakan. Gula sama garam juga kalau dikonsumsi berlebih bisa memicu komplikasi.



Perdebatan ini berlangsung cukup lama, bahkan sampai bisa menciptakan persepsi umum kalau ‘micin bisa membuat bodoh’

Komplain dari Dr. Kwok itu konon membuat banyak peneliti jadi berlomba-lomba bereksperimen sama micin ini. Simpang siur informasi soal dampak buruk micin ini tersebar layaknya ‘virus’. Bahkan hingga kini masih banyak masyarakat yang lebih memilih buat nggak menambahkan micin pada pesanan baksonya atau banyak makanan lain. Bahkan soal efek micin ini sudah jadi bahan bercandaan di banyak kelompok pertemanan. Lebih buruk, micin tak berdosa ini sampai dianggap sebagai penyebab kebodohan umat manusia. Padahal ‘kan orang bisa bodoh ya karena nggak belajar!

Pada 1995, badan pengawas obat dan makanan di AS membuat eksperimen tentang efek MSG ini. Hasilnya, MSG tergolong bahan yang aman dikonsumsi

Nah, pada 1995 akhirnya ada juga kejelasan soal efek micin ini. Dilansir dari Kompas, Food and Drug Administration (FDA) di AS meminta Federasi Masyarakat Amerika untuk Biologi Eksperimental, melihat dampak sebenarnya dari micin. Hasilnya beberapa kelompok individu memang menunjukkan respon buruk terhadap MSG dalam dosis besar, yang dirasakan satu jam setelah mengonsumsinya. Tapi kadarnya memang 3 gram tanpa makanan. Padahal kebanyakan orang mengonsumsi MSG rata-rata cuma 0,55 gram/hari, dan dicampur makanan juga. Beberapa riset juga menunjukkan hasil serupa.

Atas dasar penelitian-penelitian tersebut, FDA akhirnya menetapkan MSG sebagai GRAS (Generally Recognised As Safe) alias bumbu penyedap yang aman dikonsumsi. Lagian kalau memang micin berbahaya kenapa penjualannya nggak dilarang dan sah-sah aja? Apapun yang berlebihan pasti jadinya berbahaya, ‘kan yang penting nggak ngemil micin tiap hari~


Share:

November 12, 2017

Ketika Kidz Zaman Now Ejek Pahlawan, Mengungkap Sosok Dibalik Uang Kertas 10000

foto: wikipedia.org
Gema Indonesia - Sosok pahlawan Frans Kaisiepo pernah diolok-olok warganet saat Bank Indonesia meluncurkan uang rupiah baru. Tokoh pejuang dari Papua ini tercetak di selembar pecahan uang Rp10 ribu yang baru. Ada warganet yang usil, bahkan kids zaman now ikut menempali, mempertanyakan siapa Frans Kaisiepo.



Yang menyedihkan, saat warganet mengomentari rupa dari pahlawan yang terlibat dalam Konferensi Malino pada 1946. Frans Kaisiepo merupakan pejuang yang ikut membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua.

Kontribusi pria kelahiran Wardo, Biak, Papua pada 10 Oktober 1921 ini adalah mengusulkan nama Irian, yang dalam bahasa Biak mempunya arti beruap.
Namun, warganet dan kids zaman now yang terlanjur merisak Frans Kaisiepo, tidak meminta maaf setelah tahu pejuangan mantan Gubernur Papua (1964 sampai 1973)

Berani Menghina Pahlawan
foto: liputan6.com
Menyedihkan. Mereka berani dan mudah sekali mengolok satu sosok pahlawan, tapi berat meminta maaf dan mengakui kesalahan yang diperbuat. Jika seperti ini, siapa yang harus disalahkan?

"Kalau saya lihat, ini ada hubungannya antara minimnya interaksi orangtua dan anak," kata Psikolog Anak dan Remaja, Ike R Sugianto saat dihubungi Health Liputan6.com pada Jumat, 10 November 2017.

Kurangnya pengalaman dalam hal bergaul dengan orang-orang yang berbeda membuat mereka-mereka ini, mudah menghina orang lain yang menurut mereka "berbeda". Andai pergaulan mereka dihiasi dengan perbedaan, baik agama, ras, warna kulit, bahkan strata sosial, rasanya hal itu tidak akan terjadi.

"Kalau yang berbuat adalah anak SD, kita balik tanya ke mereka baik-baik. Tanyakan ke mereka, bagaimana perasaannya saat dibilang mukamu jelek. Tidak ada orang yang suka dihina karena mukanya jelek, maupun kulitnya yang hitam," ujar Ike.

Interaksi Orangtua dan Anak
foto: liputan6.com
Menurut dia, semua itu balik ke rumah masing-masing. Interaksi antara orangtua dan anak harus ditingkatkan lagi. Dengan begitu, orangtua tahu apa yang dibaca dan sedang dipahami oleh anak-anak mereka. Terlebih sekarang, arus informasi bermunculan dengan sangat mudah di sosial media. Yang jika tidak disaring akan hanya merugikan diri sendiri, dan tidak menutup kemungkinan orang lain dan orang-orang sekitarnya.

"Terkadang apa yang mereka baca di sosial media belum tentu benar. Tapi kadang ada orang-orang yang menganggap apa pun yang ada di internet pasti benar," kata Ike.
Hal ini penting supaya kids zaman now tidak mudah termakan isu-isu jelek dan bisa lebih menghormati pahlawan.


Isi dikutip dari Liputan6 dengan judul "Ketika Kids Zaman Now Ejek Pahlawan"

Share:

November 11, 2017

Polres Dharmasraya Hangus Dibakar 2 Orang

Polres Dharmasraya dibakar (foto: merdeka.com)
Gema Indonesia - Minggu (12/11/17) Markas Kepolisian Resor Dharmasraya, Sumatera Barat habis terbakar sekitar pukul 02.30 WIB. Tidak ada yang tersisa, semua bangunan ludes terbakar.

"Iya (dibakar). Habis semua terbakar, termasuk dokumen penting," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto.


Petugas piket yang melihat kepulan asap segera menghubungi pemadam kebakaran.

Di tengah proses memadamkan api, petugas melihat dua orang yang diduga kuat sebagai pelaku pembakaran melarikan diri.

Petugas berupaya mengejar terduga pelaku tapi kedua orang tersebut justru melawan dan menembakkan panah kearah petugas.

"Petugas melihat dua orang membawa busur dan panah sambil melarikan diri. Kemudian dikejar petugas. Ternyata dia melawan dan memanah petugas. Melakukan penyerangan kepada petugas," ujar Setyo.

Polisi melepaskan tembakan peringatan tapi tidak diindahkan sehingga terpaksa dilumpuhkan dengan senjata api.

"Kemudian ditembak peringatan tidak mau, akhirnya dilumpuhkan. Ternyata keduanya meninggal dunia,"

"Keduanya meninggal dunia," ungkap Setyo.

Sumber: Merdeka
Share:

Organisasi Yahudi Meradang Museum di Jogja Pajang Patung Hitler

foto: okezone.com
Gema Indonesia - Beredar foto dimana bocah-bocah terlihat selfie dengan patung lilin diktator Nazi Jerman, Adolf Hitler. Foto tersebut juga berlatar kamp kematian Auschwitz yang dibuat dengan efek visual.  Foto tersebut diambil di Museum di Yogyakarta yang bernama De MATA De ARCA.

Organisasi yahudi Amerika Serikat (AS) merasa geram dengan dipajangnya patung Hitler di museum tersebut.

”Segala sesuatu tentang itu salah. Sulit untuk menemukan kata-kata karena betapa hina hal itu,” ujar Rabbi Abraham Cooper, petinggi asosiasi dari Simon Wiesenthal Center di AS, yang mendukung kampanye perlawanan anti-Semitisme dan Holocaust.

”Latar belakangnya menjijikkan. Ini mengolok-olok korban yang masuk dan tidak pernah keluar,” ungkap Cooper merujuk pada setidaknya 1,1 juta tahanan yang meninggal di kompleks kamp pembantaian terbesar Nazi di Auschwitz antara tahun 1940-1945.


Menurut Warli, Marketing Manager Museum De MATA De ARCA, tokoh Hitler merupakan objek favorit para pengunjung. 

”Tokoh Hitler adalah salah satu favorit bagi pengunjung kami,” ujarnya.

“Sebagian besar pengunjung kami bersenang-senang karena mereka tahu ini hanyalah sebuah museum hiburan,” tuturnya.

Warli menambahakan bahwa museum di Yogyakarta itu belum mendapat keluhan mengenai gambar yang dipamerkan sejak tahun 2014 tersebut. Namun, dia mengetahui sejarah kejahatan yang dilakukan Hitler.

Human Rights Watch (HRW) juga mengecam instalasi  di museum itu dengan menyebutnya sebagai pemandangan memuakkan.

Cooper mengkritik bisnis yang mengeksploitasi tema Nazisme untuk meraup pendapatan. Tindakan seperti itu, kata dia, tidak dapat dimaafkan.

Setelah mendapat protes dari organisasi Yahudi AS dan kelompok HAM, pihak museum berjanji akan membahas seruan untuk menghapus figure Hitler dengan manajemen dan pemiliknya.

”Kami akan mengikuti saran terbaik dan respons dari masyarakat. Biarkan orang menilai apakah karakter itu baik atau buruk,” kata Warli.

Sumber: Okezone
Share:

November 10, 2017

Pencuri Motor Direbut Paksa Dari Mobil Polisi, Dikeroyok Hingga Tewas

ilustrasi pengeroyokan (foto: poskotanews.com)

Gema Indonesia - Seorang pencuri motor tewas setelah diamuk massa karena kedapatan mencuri motor Vixion di Desa Tangkahan, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deliserdang.

Sebenarnya pelaku ini sudah sempat diamankan polisi dan dimasukkan ke dalam mobil Kijang BK 1843 BC. Namun, warga yang sudah kesal dengan aksi pencurian mengadang mobil polisi dan menculik paksa pelaku dari Kanit Reskrim Polsek Namorambe, Iptu W Tarigan.


Menurut informasi, peristiwa tragis ini terjadi pada Kamis (9/11/17) kemarin. Saat itu, pelaku mencuri motor korban yang kebetulan tengah terparkir di halaman SDN 101803 Desa Tangkahan.

Saat menjalankan aksinya, pelaku dipergoki oleh ibu pemilik motor. Spontan, ibu korban mengabari warga, dan anaknya kemudian menelfon sejumlah kerabat untuk memblokir kampung agar pencuri tak bisa lari.

Setelah menerima informasi adanya kasus pencurian, petugas Polsek Namorambe turun ke lapangan. Saat itu, pelaku yang tahu telah dikepung lari ke arah Jalan gereja katolik, menuju persawahan.

Karena jumlah masa cukup ramai, Iptu W Tarigan mengamankan tersangka ke dalam mobil. Nahasnya, ketika melintas di Dusun II, mobil yang ditumpangi Tarigan dan pelaku dihadang warga.

Warga menculik mengambil paksa pelaku. Begitu turun dari mobil, pelaku langsung diamuk hingga tewas. Tak hanya sampai disitu, warga juga mengumpulkan kayu kering diduga untuk menakar jasad pelaku.

Beruntung, petugas gabungan datang mengamankan situasi. Polisi kemudian meredam amarah warga, dan mengevakuasi jasad pelaku.

Sumber: Tribunnews
Share:

Ditengah Hujan, Wakil Wali Kota Batam Amsakar Temui Ratusan Buruh

demo buruh di batam (foto: tribunnews.com)
Gema Indonesia - Setelah melakukan pertemuan dengan perwakilan FSPMI Batam, Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad, langsung menemui ratusan buruh di tengah hujan, sekitar pukul 15.05 WIB, Jumat (10/11/17).

Amsakar langsung menaiki mobil tempat orator menyampaikan aspirasi dan menyampaikan hasil kesepakatan dari pertemuan dengan buruh.

"Apa yang disepakati tadi, akan kita sampaikan ke Gubernur Kepri. Tadi teman-teman mintanya untuk melampirkan kebutuhan hidup layak (KHL) dalam rekoemdasi UMK 2018. Tapi tidak mungkin dilakukan karena surat rekomendasi itu sudah di kirim ke Gubernur Kepri," ujarnya.

Amsakar juga mendukung dengan dibentuknya asosiasi sektoral yang disarankan teman-teman buruh. Sebab melalui masing-masing aosiasi sektoral ini, nantinya bisa menentukan UMK.

"Kita juga sudah beberapa kali sampaikan peninjauan kembali PP No.78 tahun 2015. Kita minta semua serikat buruh untuk kembali menanyakan masalah itu dan mengawasi sampai dimana," ujarnya.

Untuk masalah rujukan untuk dijadikan Pergub atau Perda terkait penentuan UMS (upah minimum sektoral), pihaknya mendukung dan akan menyampaikan langsung ke Gubernur Kepri.

"Tadi kita semuanya sepakat, usulan dari teman-teman buruh akan disampaikan langsung ke Gubernur Kepri," tuturnya. 

Sumber: Tribunnews
Share:

November 9, 2017

Teuku Cik Di Tiro, Pahlawan Aceh Yang Mampu Mengurung Pertahanan Belanda

Teuku Cik Di Tiro, Pahlawan besar Aceh yang bernama asli bernama asli Muhammad Saman (foto: sindonews.com)

KETIKA Aceh Besar jatuh di tangan Belanda, Teuku Cik Di Tiro hadir untuk memimpin perang. Pada tahun 1881, ia berhasil merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong dan membuat Belanda kewalahan.

Teuku Cik Di Tiro adalah pahlawan nasional dan tokoh penting yang berjasa melawan kolonial Belanda. Teuku Cik Di Tiro bernama asli Muhammad Saman. Ia lahir di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh pada tahun 1836 bertepatan dengan 1251 Hijriyah. Masa kecilnya dibesarkan dalam lingkungan agama yang taat.

Cik Di Tiro merupakan keturunan dari pasangan Teuku Syekh Ubaidillah dan Siti Aisyah. Salah satu cucunya adalah Hasan Di Tiro, pendiri dan pemimpin Gerakan Aceh Merdeka. Ia sangat dihormati karena ilmu dan keberaniannya melawan imperialisme dan kolonialisme.

Dalam meneguhkan ilmu agamanya, Cik Di Tiro banyak belajar kepada para ulama terkenal di daerah Tiro. Itu pula lah sebabnya ia dipanggil dengan sebutan Teuku (Teungku) Cik Di Tiro. Ia memang dikenal sebagai anak yang suka belajar agama dan mendalami ilmu-ilmu baru.

Ketika menunaikan ibadah haji di Mekkah, Saudi Arabia, ia terus memperdalam ilmu agamanya di Tanah Suci tersebut. Ia dibesarkan pada periode dimana Belanda berusaha menaklukkan bumi Aceh pada tahun 1873. Aceh Besar saat itu berhasil dikalahkan dan berada dalam kekuasaan colonial Belanda.

Ketika berada di Mekkah dalam rangka menunaikan haji, Cik Di Tiro juga belajar tentang cara-cara melawan kolonialisme dan imperialisme. Saat kembali ke Aceh, ia menjadi pemimpin pergerakan yang berujung pecahnya pertempuran melawan Belanda. Karena semangat juangnya, ia dijuluki sebagai Panglima Sabil atau pemimpin perang Sabil. Kesultanan Aceh mempercayainya sebagai pemimpin perang, dan perjuangan dilakukan atas dasar agama dan kebangsaan.

Ia dan pasukannya berhasil mengambil alih wilayah jajahan yang sebelumnya dikuasai Belanda. Pada tahun 1881, benteng Belanda di Indrapura berhasil direbutnya. Kemudian benteng Lambaro, Aneuk Galong, dan tempat lainnya.

Pulau Breuh pun mendapat serangan, dari situ pasukan Cik Di Tiro bermaksud merebut Banda Aceh. Kompeni Belanda jadi kewalahan dan daerah Aceh yang masih mereka kuasai tidak lebih dari empat kilometer persegi.

Perlawanan yang dilancarkan Teuku Cik Di Tiro dan pasukannya tak obahnya seperti singa. Mereka memilih roboh dalam nyala api yang membakar benteng daripada menyerah.

Belanda pun semakin terdesak dan hanya bertahan di dalam benteng di wilayah Banda Aceh. Untuk mempertahankan wilayahnya, Belanda terpaksa menggunakan taktik uni konsentrasi (concentratie stelsel), yaitu membuat benteng di sekelilingnya.

Merasa kewalahan dengan serangan Cik Di Tiro dan pasukannya, Belanda pun mendatangkan bala bantuan dengan perlengkapan perang dalam jumlah besar-besaran. Pada tahun 1873 Belanda melancarkan aksi balas dendam untuk merebut kembali daerah kekuasaannya.

Pada penyerangan pertama, pasukan Belanda melakukan aksinya namun dapat digagalkan. Perang tersebut memakan korban bagi pihak Belanda dengan tewasnya pimpinan mereka yaitu Mayor Jenderal Kohler.

Kegagalan ini membuat Belanda kian geram, akhirnya mereka memperkuat barisan pasukannya dengan tembakan meriam dari kapal perang yang berlabuh di pantai. Alhasil keadaan tersebut membuat pasukan Cik Di Tiro mulai mundur.


Halaman Selanjutnya >
Hal 1
    2  
Share:

Daftar Berita

Blog Archive

Theme Support