November 7, 2017

Kisah Menarik Antara Ustadz Felix Siauw (ex-HTI) dengan Ustadz Salafi dan Ulama NU

(Dari kiri ke kanan) Ust. Musthafa Umar Imam Besar Masjid An-Nur Pekanbaru; Ust. Abdullah Soleh Hadrami Pembina Masjid An-Nur, Jagalan, Malang; Ust. Felix Siauw saat mengunjungi Ulama Suriah awal tahun 2014 silam

oleh: Abah Fanni, Ketua Umum Sahabat Al-Aqsha | Ketua Takmir Masjid Jogokariyan

Gema Indonesia: Kejadiannya di awal tahun 2014.
Sarapan pagi yang sedang asyik itu ditambahi Allah berkah sebuah kabar: “Wah, Ustadz Felix dideportasi dari Amerika.”
Loh, dideportasi kok malah berkah?

Ya, karena dideportasi itulah jadwal dua minggu safari da’wah beliau yang tadinya direncanakan di Amerika Serikat mendadak kosong.

Ustadz Salim A. Fillah yang sedang sarapan bersama kami langsung mengusulkan untuk mengajak Ustadz Felix Siauw mengunjungi anak-anak yatim Suriah di perbatasan Turki-Suriah. Waktu itu ada 200 anak yatim korban perang Suriah yang disantuni masyarakat Indonesia lewat Sahabat Al-Aqsha, sebagian kecil ada di perbatasan Turki-Suriah di pengungsiannya.

Maka, setelah janjian lewat telepon, pagi itu juga kami mengunjungi Ustadz Felix. Wajahnya sumringah, habis dideportasi malah kedatangan sahabat-sahabat. Setelah taaruf singkat, Allah teteskan perasaan langsung dekat di antara kami.

Da’i muda ini langsung mengangguk saat diajak menjenguk anak-anak yatim Suriah.

Dengan izin Allah di tim itu ada dua ustadz lain, Ustadz Musthafa Umar dari Pekanbaru yang selalu disebut oleh Ustadz Abdul Somad sebagai “abang saya”, dan Ustadz Abdullah Soleh Hadrami dari Malang, salah seorang murid langsung Syaikh Muhammad Ibn Utsaimin.

Jadi, di tim relawan Sahabat Al-Aqsha itu ada kombinasi ukhuwwah zaman now yang wuihhh banget. Yang satu Ustadz Felix Hizbut Tahrir (waktu itu), yang satu Ustadz Musthafa Al-Azhari (sebutan untuk lulusan Universitas Al-Azhar), Asy-Syafi’iy (bermadzhab fiqh Imam Syafi’i), yang terakhir Ustadz Abdullah salafi lulusan Saudi yang sudah mendarah daging kecintaannya kepada para Salafush Shalih.

Kami di Sahabat Al-Aqsha sudah membayangkan, “Wih, Hizbut Tahrir ketemu Salafi, bisa-bisa ada yang dipaksa turun saat pesawat masih di langit nih…” bisik salah satu dari kami sambil nyengir-nyengir.

Maka, sepanjang safar itu terjadilah perdebatan-perdebatan ilmiah yang terkadang lumayan keras. Ustadz Abdullah menyodok, Ustadz Felix menangkis, Ustadz Musthafa senyum-senyum sambil berdzikir.

Ustadz Felix meledek, Ustadz Abdullah meledak, Ustadz Musthafa mengademkan.

Ustadz Abdullah melempar, Ustadz Felix tangkap, balas lempar lebih keras, Ustadz Musthafa geleng-geleng. Alhamdulillah ketiganya orang-orang santun dan beradab. Sekeras apapun perdebatannya, tak satupun keluar kata-kata yang menghina pribadi atau kelompoknya masing-masing.

Alhamdulillah, relawan-relawan SA yang ada dalam tim itu juga sudah terbiasa melayani para ustadz dari berbagai aliran persilatan ilmu itu, jadi ya nyantai saja..

Bahkan ada kode jenaka yang tanpa sengaja mereka sepakati. Setiap kali perdebatan sudah memuncak ketegangannya, tiba-tiba salah satu dari mereka akan langsung menyodorkan buah ke masing-masing ustadz, “Ayo makan buah dulu, buah dulu, buah dulu….” Masing-masing ustadz yang sedang ngotot itu lalu mengupas buah dan saling memberikan kepada lawan debatnya. Indah bangeeeeet…..

Setiap ba’da shalat subuh selama safar kita saling bertaaruf. Di situlah para ustadz ini kemudian mengenali pribadi mereka secara lebih mendalam satu sama lain.

Wajah-wajah yang tadinya tegang karena “perbedaan” fikrah, menyantai setelah mendengar kisah-kisah lucu semasa kecil dan remaja.

Ustadz Felix menceritakan detail-detail kisahnya jatuh cinta dengan Islam saat kuliah di Institut Pertanian Bogor, setelah puluhan tahun dididik untuk selalu curiga dan sinis kepada Pribumi Muslim di kampungnya di Palembang.

Ustadz Abdullah menceritakan kisahnya ngangsu kaweruh dari Almarhum Syaikh Utsaimin, yang menurutnya kepribadian ulama Saudi itu lembut dan berpikiran terbuka siap menerima perbedaan-perbedaan pendapat.

Ustadz Musthafa mengisahkan kehidupan belianya saat belajar langsung dari almarhum Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi yang legendaris itu.

Pelan-pelan Allah satukan hati ketiga ustadz kita ini terutama setiap kali diingatkan pentingnya bergandeng tangan membantu keluarga-keluarga kita membebaskan Masjidil Aqsha.

Hati ketiga ustadz ini semakin meleleh selama safar, setiap kali bertemu anak-anak pengungsi terutama anak-anak yatim Suriah.

Di mana lagi tempat untuk berdebat, saat anak-anak balita yang ayah-ayahnya dibunuhi tentara rezim Basyar Assad berjalan pelan-pelan, lalu merebahkan tubuh-tubuh mungilnya di pangkuan para ustadz ini?


Ust. Felix Siauw dan Ust. Abdullah Hadrami.

Kelak, dan sampai hari ini, ketiganya adalah relawan sekaligus Penasihat Sahabat Al-Aqsha. Oleh Ustadz Musthafa Umar, Ustadz Felix Siauw juga dipersaudarakan dengan Ustadz Abdul Somad yang sedang masyhur. Di salah satu ceramahnya, Ustadz Abdul Somad yang anggota Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama Provinsi Riau ini mengisahkan kedekatannya dengan Ustadz Felix, “Bangga kali awak, dijemput mengisi pengajian di Jakarta dengan Pajero Sport. Apalagi yang menjemput itu Ustadz Felix Siauw. Dia itu Akhi, Saudaraku!!!”

Ustadz Abdul Somad (kanan) dan Ustadz Felix Siauw (kiri) 
Wahai seluruh hati, berpeganglah kuat-kuat pada tali Allah, berlemah lembutlah kepada saudaramu sesama Muslim, bersikap tegaslah pada kejahatan kufr dan syirik.

Semoga Allah melayakkan kita masuk dalam kategori mereka yang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam “Muhammadur Rasulullaah.. alladziina ma’ahu asyiddaa’u ‘alal kufaari ruhamaa’u bainahum..” (Sahabat Al-Aqsha)

Dikutip dari: Sahabatalaqsha dengan perubahan judul
Foto-foto: sahabatalaqsha.com

Share:

November 6, 2017

Rahasia Ustadz Felix Oleh Gus Nur


video: youtube - Serambi Aswaja

Gema Indonesia - Penceramah sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an dan Majelis Dzikir “Karomah 13” di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Gus Nur membocorkan rahasia Ustadz Felix Siauw yang belum pernah terungkap: siapa yang membiayai?

Seperti dikutip ngopibareng, dalam berdakwah misalnya, Ustadz Felix tak menentukan tarif. Naik pesawat ke penjuru tanah air juga uang sendiri. Mobilnya pun, mewah dan baru. Dapat dari mana?

Menurut Gus Nur, melalui videonya yang baru diunggah di akun facebook pribadinya, Ustadz Felix tak dibiayai pihak luar.

“Sabar ya Ustadz Felix, sabar, antum ini China, antum ini sipit, tapi antum muallaf, antum Muslim, antum pendakwah, dan antum gak pernah pasang tarif kalau dakwah. Sekarang diperlakukan seperti ini, sabar ustadz.” kata Gus Nur membuka videonya.

Gus Nur menyebut kisah Ustadz Felix ini seperti kisah Rasulullah dan Pamannya yang non Muslim. Oh ya? Seperti apa?

“Aku kenal Ustadz Felix, aku pernah satu mobil sama Ustadz Felix. Ustadz Felix punya mobil mewah itu bukan hasil dari dakwah. Mobil itu dibelikan Papanya yang memfasilitasi dakwah. padahal Papanya Non-Muslim," jelas Gus Nur.

Papanya ini, terang Gus Nur, minta Ustadz Felix jangan pernah narik tarif ataupun terima upah saat berdakwah, biar Papanya saja yang membiayai. "Jadi semua biaya pengajian ditanggung Papanya, aku jadi teringat Rasulullah dengan pamannya (paman Rasul adalah seorang Non-Muslim)," terangnya.

Dan terbongkarlah sudah siapa yang membiayai Ustdz Felix Siauw dalam berdakwah, tak lain, Papanya sendiri.

Dikutip dari beritaislam24h dengan perubahan judul
Share:

November 5, 2017

Ketakutan Para Nabi Pascahari Kiamat, Kecuali Satu Nabi

foto: merdeka.com
Gema Indonesia - Setelah hari berbangkit dan orang-orang dikumpulkan di Padang Mahsyar, mereka akan sibuk memikirkan dirinya sendiri, tak terkecuali para Nabi. Mereka sibuk menyelematkan diri mereka dari siksaan nereka. Namun, ada satu Nabi yang saat itu dimintai pertolongan, beliau adalah Nabi Muhammad SAW.

Abu Hurairah menuturkan bahwa suatu hari, dirinya berdoa bersama Rasulullah SAW dan sejumlah sahabatnya. Sekonyong-konyong sebuah hasta (kaki) kambing disodorkan ke hadapannya, Nabi SAW memang menyukainya. Kemudian beliau menggigitnya seraya berkata, “Aku penghulu manusia di hari kiamat. Apakah kalian tahu, apa sebabnya Allah SWT mengumpulkan semua manusia, sejak generasi pertama hingga generasi terakhir di satu tempat?”

Dikisahkan dari Ensiklopedia Alquran, para sahabat tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan rasul. Maka, Beliau melanjutkan ceritanya. “Lalu seorang memandang dan mendengar seruan mereka, dan matahari semakin mendekat ke arah mereka. Tak ayal , mereka pun kepanasan dan menanggung kesulitan yang tak sanggup diemban.”

“Mereka berkata, ‘Tahukah kalian apa yang sedang kita alami? Tahukah kalian apa yang sedang kita hadapi ? Tahukah kalian orang yang dapat meminta syafaat kepada Tuhan buat kita?’ Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Bapak kita, Adam.’”

Disabdakan oleh Nabi SAW bahwa mereka lalu mendatangi Adam dan berkata, “Wahai Adam, bapak umat manusia. Allah SWT menciptakanmu dengan Tangan-Nya, meniupkan roh-Nya ke dalam dirimu, memerintahkan para malaikat untuk bersujud, dan menempatkanmu di surga. Maukah engkau memintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami? Tahukah kamu apa yang kami alami dan menimpa kami saat ini?”

Adam menjawab, “Sesungguhya, Tuhanku sangat marah pada hari ini. Dia tidak pernah marah seperti itu sebelum dan sesudahnya.  Dia pernah melarangku mendekati pohon, namun kulanggar. Aku sibuk mengurusi diriku sendiiri. Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Nuh!”

Mereka pun mendatangi Nuh dan berkata, “Wahai Nuh, engkau addalah Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi. Allah SWT menilaimu sebagai hamba yang banyak bersyukur. Tahukah engkau apa yang menimpa kami saat ini? Maukah engkau memintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami?”

Nuh menjawab, “Sesungguhnya, hari ini Tuhanku sangat marah. Dia tidak pernah marah seperti itu sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya aku punya doa yang telah kuserukan supaya Tuhan menghukum kaumku. Aku sibuk mengurusi diriku sendiri. Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Ibrahim!”

Doa yang dimaksud Nabi Nuh AS ialah doa yang dipanjatkan ke hadirat Allah SWT saat dirinya marah kepada kaumnya yang mendustakannya serta menyatakan tetap dalam kekufuran. Setelah doa itu dipanjatkan Nuh, terjadilah banjir yang sangat dahsyat, sebagaimana diabadikan dalam dua ayat berikut:

Dan Nuh berkata, “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat durhaka (maksiat) lagi kafir.’” (QS. Nuh:26-27)

Kemudian mereka pun mendatangi Ibrahim dan berkata, “Wahai Nabi Allah dan kekasih-Nya, mintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami. Tahukah engkau, apa yang kami alami saat ini?” Ibrahim menjawab, “Tuhanku sangat marah hari ini. Dia tidak pernah marah seperti itu sebelum dan sesudahnya. Aku pernah berdusta tiga kali. Aku sibuk mengurusi diriku sendiri. Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Musa!”

Lalu mereka mendatangi Musa dan berkata, “Wahai Musa, Allah SWT melebihkanmu dengan risalah dan kalam-Nya dibandingkan manusia lain. Mintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami. Tahukah engkau, apa yang kami alami saat ini? Musa berkata, “Tuhanku sangat marah hari ini. Dia tidak pernah marah seperti itu sebelum dan sesudahnya. Aku pernah membunuh jiwa yanng sebenarnya dilarang. Aku sibuk mengurusi diriku sendiri.”

Mereka lalu mendatangi Isa AS dan berkata, “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah dan kalimat-Nya disampaikan kepada Maryam serta roh dari-Nya. Engkau juga dapat berbicara saat masih dalam buaian. Mintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami.”

Isa menjawab, “Tuhanku sangat marah hari ini. Dia tidak pernah marah seperti ini sebelum dan sesudahnya. Aku sibuk mengurusi diriku sendiri. Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Muhammad!”

Maka, mereka pun mendatangi Nabi Muhammad SAW dan berkata, “Wahai Nabi Allah, Muhammad engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah SWT mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Mintakanlah  syafaat kepada Tuhanmu untuk kami. Tahukah engkau, apa yang kami alami saat ini?”

Maka, Nabi Muhammad SAW bertolak hingga sampai di bawah Arsy.’ Beliau bersimpuh sujud kepada Allah.

"Kemudian Allah SWT membuka pintu  hatiku untuk memuji-Nya yang belum pernah dilakukan kepada seorang pun sebelumku," kata Nabi.

Maka Allah berkata, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, niscaya permintaanmu akan dikabulkan; dan syafaatilah, niscaya syafaatmu akan diterima.”

Lalu aku mengangkat kepalaku seraya berucap, “Umatku, wahai Tuhanku, umatku! Wahai Tuhanku, umatku.”

Lalu dijawab oleh Allah SWT, “Wahai Muhammad, masukkanlah umatmu yang tidak dihisab melalui pintu surga sebelah kanan.”

Rasulullah SAW mengakhiri sabdanya kepada para sahabat dengan mengatakan: “Demi Zat yang jiwaku ada di tangannya, jarak antara kedua daun pintu surga itu seperti jarak antara kota Makkah dan kota Bushra (sebuah kota di Syam di Suriah).” (HR. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)


Dikutip dari Republika

Share:

Pernyataan Ustadz Felix Siauw Usai Pengajiannya Dibubarkan

Ustadz Felix Siauw dan Ulama Pasuruan (foto: surabayapost.net)
Gema Indonesia - Kajian atau pengajian Ustaz Felix Siauw di Bangil, Kabupaten Pasuruan, mendapat penolakan dari ormas (organisasi masyarakat) Banser. Felix dinilai anti Pancasila, sehingga pengajian yang dilaksanakannya tidak pantas.


Menanggapi itu, Ustaz Felix Siauw punya menyanggahnya. Berikut bantahan Felix Siauw.

Kepada Jamaah Masjid Manarul Islam Bangil

Pertama-tama, saya mengucapkan jazakallahu khairan katsiran, jazakallahu bil jannah, semoga Allah berikan balasan berupa surga bagi jamaah yang hadir di Masjid Manarul Islam

Sejatinya saya sudah berada disana sejak pukul 08.00, hanya saya dipaksa meninggalkan Masjid oleh pihak polres, dengan alasan ada ormas yang mendemo di depan Masjid

Saya paham yang hadir di Masjid kesemuanya adalah ummat yang Allah pilih, yang dicintai Allah dan juga mencintai Allah, tak takut apapun dan tak berharap apapun kecuali Allah

Begitu juga semua gabungan laskar-laskar Islam yang sudah bersiap sedia, dengan jumlah dan kekuatan Allah pinjamkan pada mereka, semoga Allah saksikan keberpihakannya

Saya sudah sampaikan sedari awal, saat muncul penolakan dan fitnah serta tuduhan kepada saya oleh segelintir orang, bahwa yang saya cari ridha Allah, apapun kondisinya

Saya serahkan semua pada panitia, jika panitia suka, apapun saya akan penuhi. Hanya panitia sangat ditekan oleh pihak berwenang, akhirnya memutuskan membatalkan

Sempat terjadi ketegangan antara gabungan laskar yang lalu menyusul saya dengan pihak kepolisian. Mereka meminta dengan sopan 2 menit saja saya bisa menyapa jamaah

Namun pihak kepolisian bergeming, demi menjaha kamtibmas, segelintir ormas yang memprotes lalu dimenangkan, dan kajian harus dibatalkan, saya tidak boleh kembali ke Bangil

Bahkan ketika ayahanda kami, KH Nurcholish Mustari, tokoh Bangil yang sekaligus sesepuh, datang dengan tongkatnya, pun tak bisa melunakkan hati pihak kepolisian

Subhanallah, Allah yang melapangkan hati mereka, dan juga melembutkan lisan dan amal mereka, kedzaliman itu mereka terima, dan sayapun dengan berat hati pergi dari Bangil

Para pembubar kajian berteriak gembira, riang bak menang perang, lalu mengunggah berita kemana-mana dengan versi mereka sendiri, memelintir dan memfitnah

Karenanya saya akan tuliskan kejadian sebenarnya, agar teman-teman tahu, siapa yang mencintai agama ini, ummat ini, yang selalu merindu berada diatas jalan dakwah. (Junaidi)

Dikutip dari: Surabayapost
Share:

Sandi: "Alexis diubah jadi Al-Ikhlas, Insya Allah"

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (foto: arah.com)
Gema Indonesia - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno meminta organisasi Kebangkitan Jawara dan Pengacara 'Bang Japar' ikut mengawasi masalah sosial di Jakarta. Termasuk alexis yang sudah tidak  exist lagi.

"Sekarang 'Bang Japar' harus pastikan bagaimana mengatasi miras, bagaimana mengatasi judi dan bagaimana mengatasi Alexis yang sudah tidak eksis lagi," ujar Sandi di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Minggu (5/11/17).

"Alexis diubah jadi Al-Ikhlas, Insya Allah," ujar Sandi menambahkan.

Ketika ditanya mengenai maksudnya mengubah Alexis menjadi Al-Ikhlas. Sandi menjawab saat ini banyak dorongan untuk membuat "halal tourism" atau wisata halal di Jakarta. Konsep semacam ini sudah diterapkan di berbagai negara.

"Kalau teman-teman ingin mengonversi, kami sudah ada pendampingannya," ungkapnya.

Ketua Umum "Bang Japar", Fahira Idris mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tidak memperpanjang izin usaha Alexis.

"Kami apresiasi gubernur dan wagub yang sudah berhasil menutup surga dunia Alexis. Kami salut punya pemimpin yang menolak pemasukan dari uang yang tidak berkah," ungkap Fahira.

Sumber: Tribunnews
Share:

November 4, 2017

Dua Tekniknya Tidak Berhasil, Alasan Polisi Belum Terungkapnya Kasus Novel

foto: oborislam.com
Gema Indonesia - Polisi mengaku masih sulit mengungkap kasus penyiraman air keras ke Novel Baswedan.  Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan, dalam mengungkap kasus Novel Baswedan, metode penyidikan yang biasa digunakan  kepolisian tidak membuahkan hasil yang memuaskan.


"Penyidik biasanya sering menggunakan tehnik atau metode induktif dan deduktif," ujar Rikwanto dalam pesan tertulisnya, Sabtu (4/11/17).

Rikwanto menjelaskan, teknik induktif penyelidikan dimulai dari tempat kejadian perkara atau yang sering disebut olah TKP. Kemudian hasil olah TKP digunakan untuk membuka tabir peristiwa yang sebenarnya terjadi dengan ditambahkan keterangan para saksi, ahli dan barang bukti.

Sedangkan metode deduktif, penyidik melakukan penyelidikan berangkat dari motif yang diduga melatarbelakangi kasus tersebut. Selanjutnya penyidik mencari benang merah kepada siapa-siapa yang diduga berkaitan dengan kejadian. "Dua cara ini sering sangat efektif untuk mengungkap kasus pidana yang terjadi," ujar Rikwanto.

Sayangnya, ujar Rikwanto, dua teknik tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan bagi kasus Novel. Memang tambahnya, tidak hanya pada kasus Novel, ada banyak kasus-kasus lain juga yang belum terpecahkan hingga saat ini. "Tidak terkecuali untuk kasus yang menimpa Novel Baswedan," ujar dia.

Hal tersebut menurutnya disebabkan peristiwa pidana yang terjadi di lapangan karakteristik tingkat kesulitannya berbeda satu sama lain. Misalnya terkait dengan pelaku, waktu kejadian, lokasi dan teknik yang digunakan pelaku.



Seperti di Paris, ada dua kali Bom meledak di kedubes RI tahun 2004 dan 2012 sampai saat ini belum juga terungkap. Padahal polisi Prancis sudah bekerja keras dan sistem CCTV kota Paris tergolong canggih pada waktu itu, tuturnya.

Selanjutnya kasus penembakan anggota Provost Polri di Jalan HR Rasuna Said Kuningan juga belum terungkap. Ditambah lagi dengan penembakan anggota Polri di daerah Ciputat, beberapa kasus perampokan dan kasus pembunuhan juga banyak yang belum terungkap.

Belum terungkapnya kasus-kasus itu sambung Jendral bintang satu ini, bukan karena penyidik tidak bekerja serius melakukan pengungkapan kasus. Namun kendala teknis yang ditemukan di lapangan sering membuat proses penyelidikan menemui jalan buntu. "Dan ini biasanya membuat penyidik harus kembali ke proses awal lagi," terangnya.

Begitupun dengan kasus yang Novel Baswedan, hingga saat ini penyidik belum menemukan titik terang dari kasus tersebut. Namun menurut Rikwanto, penyelidikan yang dilakukan tim masih terus berjalan untuk segera mengungkap pelaku penyiraman air keras tersebut.

Pengungkapan suatu perkara pidana kadang hanya masalah waktu saja, ada yang cepat ada cukup lama, bahkan ada yang lama sekali baru terungkap karena tingkat kesulitannya yang berbeda, papar dia.

Oleh sebab itu, Polisi juga mengharapkan adanya masukan informasi yang signifikan dari masyarakat dalam mengungkap kasus ini. Begitupun informasi dari korban sendiri bisa disampaikan kepada penyidik. "Inforamasi, masukan dari korban sendiri atau dari pihak manapun untuk bisa dijadikan bahan dalam mengungkap kasus tersebut," kata dia.


Sumber: Republika
Share:

November 3, 2017

Ini Pemicu Pengumuman Kelulusan CPNS Kemenkeu Diprotes

foto: okezone.com
Gema Indonesia - Kepala Badan Kepegawaian Nasional (BKN) Bima Haria Wibisana mengatakan, masalah pengumuman kelulusan seleksi kompetensi dasar (SKD) CPNS Kemenkeu belum bisa disimpulkan mengarah pada kecurangan.

"Siapa bilang ada kecurangan?" Ujarya di Jakarta kemarin (3/11/17). 

Menurut Bima,yang terjadi adalah panitia seleksi CPNS Kemenkeu kurang sosialisasi. Contohnya untuk formasi pranata humas tersedia kuota 35 kursi dengan kualifikasi S1 Komunikasi, HI, dan Humaniora.


Ternyata untuk setiap kualifikasi itu memiliki kuota beda-beda. "Misalnya kuota S1 Komunikasi 33 kursi, kemudian HI dan Humaniora masing-masing 1 kursi," jelasnya.

Dengan ketentuan seperti itu, tidak menutup kemungkinan ada pelamar dengan nilai besar tetapi kalah dengan yang nilai kecil. Sebab keduanya berasal dari kualifikasi pendidikan yang berbeda. Dia berharap ada perbaikan penyajian data kelulusan SKD CPNS Kemenkeu.

Peserta tes SKD CPNS Kemenkeu yang kecewa karena tidak lolos menegaskan sejak awal tidak ada informasi pembagian kuota berdasarkan kualifikasi pendidikan.

Kemenkeu seharusnya bisa mencontoh pengumuman kelulusan CPNS di BKN atau Setneg. Di dua instansi tersebut, pengumuman tidak dicampur menjadi satu. Tetapi dipisah antara kuota pelamar umum, cumlaude, putra/putri Papua, dan disabilitas. Selain itu juga dibagi-bagi lagi berdasarkan formasi. Sehingga cukup mudah melihat siapa yang lolos komplit dengan nilainya.

Sumber: JPNN

Share:

Daftar Berita

Blog Archive

Theme Support