November 9, 2017

Teuku Cik Di Tiro, Pahlawan Aceh Yang Mampu Mengurung Pertahanan Belanda

Teuku Cik Di Tiro, Pahlawan besar Aceh yang bernama asli bernama asli Muhammad Saman (foto: sindonews.com)

KETIKA Aceh Besar jatuh di tangan Belanda, Teuku Cik Di Tiro hadir untuk memimpin perang. Pada tahun 1881, ia berhasil merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong dan membuat Belanda kewalahan.

Teuku Cik Di Tiro adalah pahlawan nasional dan tokoh penting yang berjasa melawan kolonial Belanda. Teuku Cik Di Tiro bernama asli Muhammad Saman. Ia lahir di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh pada tahun 1836 bertepatan dengan 1251 Hijriyah. Masa kecilnya dibesarkan dalam lingkungan agama yang taat.

Cik Di Tiro merupakan keturunan dari pasangan Teuku Syekh Ubaidillah dan Siti Aisyah. Salah satu cucunya adalah Hasan Di Tiro, pendiri dan pemimpin Gerakan Aceh Merdeka. Ia sangat dihormati karena ilmu dan keberaniannya melawan imperialisme dan kolonialisme.

Dalam meneguhkan ilmu agamanya, Cik Di Tiro banyak belajar kepada para ulama terkenal di daerah Tiro. Itu pula lah sebabnya ia dipanggil dengan sebutan Teuku (Teungku) Cik Di Tiro. Ia memang dikenal sebagai anak yang suka belajar agama dan mendalami ilmu-ilmu baru.

Ketika menunaikan ibadah haji di Mekkah, Saudi Arabia, ia terus memperdalam ilmu agamanya di Tanah Suci tersebut. Ia dibesarkan pada periode dimana Belanda berusaha menaklukkan bumi Aceh pada tahun 1873. Aceh Besar saat itu berhasil dikalahkan dan berada dalam kekuasaan colonial Belanda.

Ketika berada di Mekkah dalam rangka menunaikan haji, Cik Di Tiro juga belajar tentang cara-cara melawan kolonialisme dan imperialisme. Saat kembali ke Aceh, ia menjadi pemimpin pergerakan yang berujung pecahnya pertempuran melawan Belanda. Karena semangat juangnya, ia dijuluki sebagai Panglima Sabil atau pemimpin perang Sabil. Kesultanan Aceh mempercayainya sebagai pemimpin perang, dan perjuangan dilakukan atas dasar agama dan kebangsaan.

Ia dan pasukannya berhasil mengambil alih wilayah jajahan yang sebelumnya dikuasai Belanda. Pada tahun 1881, benteng Belanda di Indrapura berhasil direbutnya. Kemudian benteng Lambaro, Aneuk Galong, dan tempat lainnya.

Pulau Breuh pun mendapat serangan, dari situ pasukan Cik Di Tiro bermaksud merebut Banda Aceh. Kompeni Belanda jadi kewalahan dan daerah Aceh yang masih mereka kuasai tidak lebih dari empat kilometer persegi.

Perlawanan yang dilancarkan Teuku Cik Di Tiro dan pasukannya tak obahnya seperti singa. Mereka memilih roboh dalam nyala api yang membakar benteng daripada menyerah.

Belanda pun semakin terdesak dan hanya bertahan di dalam benteng di wilayah Banda Aceh. Untuk mempertahankan wilayahnya, Belanda terpaksa menggunakan taktik uni konsentrasi (concentratie stelsel), yaitu membuat benteng di sekelilingnya.

Merasa kewalahan dengan serangan Cik Di Tiro dan pasukannya, Belanda pun mendatangkan bala bantuan dengan perlengkapan perang dalam jumlah besar-besaran. Pada tahun 1873 Belanda melancarkan aksi balas dendam untuk merebut kembali daerah kekuasaannya.

Pada penyerangan pertama, pasukan Belanda melakukan aksinya namun dapat digagalkan. Perang tersebut memakan korban bagi pihak Belanda dengan tewasnya pimpinan mereka yaitu Mayor Jenderal Kohler.

Kegagalan ini membuat Belanda kian geram, akhirnya mereka memperkuat barisan pasukannya dengan tembakan meriam dari kapal perang yang berlabuh di pantai. Alhasil keadaan tersebut membuat pasukan Cik Di Tiro mulai mundur.


Halaman Selanjutnya >
Hal 1
    2  
Share:

KKB Sandera Ribuan Warga di Tembagapura, Diduga Untuk Dijadikan Tameng

Kapolri Jenderal Tito Karnavian (foto: rmol.co)
Gema Indonesia - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) hingga saat ini belum meminta tebusan. Diketahui, mereka menyandera ribuan warga di Tembagapura untuk dijadikan tameng ke aparat.

"Sementara belum. Mereka prinsipnya hit and run, setelah itu dikejar dan mereka menggunakan para pendulang sebagai tameng. Ini permasalahan sosial dari dulu agar tak ada pendulangan dari dulu," ungkap Kapolri kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Kamis (9/11).


Warga yang disandera, lanjut Kapolri, ialah mereka yang berprofesi sebagai pendulang.

"Modus yang paling sering dilakukan adalah, para pendulang ini dijadikan tameng. Jadi yang dikatakan penyanderaan itu adalah para pendulkang yang kemudian dijadikan tameng."

Kapolri mengatakan medan yang cukup sulit menjadi kendala aparat untuk meringkus KKB. Ia menambahkan personel yang diturunkan seribu orang yang ditugaskan di sejumlah titik.

"Yang jelas pengamanan Freeport, dengan adanya MOU dengan Freeport, Polri dan TNI disana saya kira dari atas sampai bawah (port side) lebih kurang 74 mille yang dekat dengan jurang, hutan lebat,. Jadi lebih kurang seribu orang yang mengamankan. Ada tim pengejar juga. Tapi saya gak mau sebutkan jumlahnya untuk kepentingan kerahasian operasi."

Sebelumnya, Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar mengungkapkan ribuan warga sipil di sekitar Kimberly hingga Banti, Distrik Tembagapura disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB). Mereka menjadikan warga sebagai tameng agar tidak diserang aparat. Mereka tidak diizinkan beraktivitas termasuk membeli makanan.

Demikian diungkapkan Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar. Boy mengungkapkan sandera terdiri dari 300 warga non-Papua yang selama ini menjadi pedulang dan pengumpul emas.

"KKB saat ini menjadikan warga sipil sebagai tameng dan sandera," ujar Boy yang mengaku masih berada di Tembagapura seraya mengatakan jumlah KKB sekitar 100 orang bersenjata termasuk senjata tradisional.

Kampung Kimberly dan Banti sendiri hanya berjarak sekitar 300 meter dari Polsek Tembagapura.

Sumber: Merdeka
Share:

Ditemukan Mayat Laki-laki di Dalam Mobil Dekat Ocarina, Ini Identitasnya

mayat ditemukan di dalam mobil dekat SPBU Ocarina Batam Centre (foto: tribunnews.com)
Gema Indonesia - Siang ini, Kamis (9/11/17) ditemukan mayat seorang laki-laki di dalam mobil Toyota BP 1398 ZP di depan SPBU Ocarina Batam Centre. 

"Tadi yang memecahkan kaca karyawan car wash. Mungkin dia curiga dengan adanya mobil ini kemudian kacanya dipecahkan untuk memastikan siapa orangnya," ucap seorang warga.

Korban diketahui bernama Darma. Ia adalah bos pemilik percetakan yang ada di ruko Royal Sincom, Batam Centre. 

Menurut Reza, salah seorang karyawan korban, selama ini memang korban ada riwayat sakit jantung dan darah tinggi. Tapi dia tidak tahu penyebab kematian korban ini. 

"Yang jelas kami sudah los kontak semenjak kemarin siang. Istrinya sempat cari juga ke kantor tadi pagi," ujarnya.

Debora, istri korban sedang dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Sementara mayat korban akan di bawa ke RS Bhanyangkara. 

Sumber: Tribunnews




Share:

November 7, 2017

Kisah Menarik Antara Ustadz Felix Siauw (ex-HTI) dengan Ustadz Salafi dan Ulama NU

(Dari kiri ke kanan) Ust. Musthafa Umar Imam Besar Masjid An-Nur Pekanbaru; Ust. Abdullah Soleh Hadrami Pembina Masjid An-Nur, Jagalan, Malang; Ust. Felix Siauw saat mengunjungi Ulama Suriah awal tahun 2014 silam

oleh: Abah Fanni, Ketua Umum Sahabat Al-Aqsha | Ketua Takmir Masjid Jogokariyan

Gema Indonesia: Kejadiannya di awal tahun 2014.
Sarapan pagi yang sedang asyik itu ditambahi Allah berkah sebuah kabar: “Wah, Ustadz Felix dideportasi dari Amerika.”
Loh, dideportasi kok malah berkah?

Ya, karena dideportasi itulah jadwal dua minggu safari da’wah beliau yang tadinya direncanakan di Amerika Serikat mendadak kosong.

Ustadz Salim A. Fillah yang sedang sarapan bersama kami langsung mengusulkan untuk mengajak Ustadz Felix Siauw mengunjungi anak-anak yatim Suriah di perbatasan Turki-Suriah. Waktu itu ada 200 anak yatim korban perang Suriah yang disantuni masyarakat Indonesia lewat Sahabat Al-Aqsha, sebagian kecil ada di perbatasan Turki-Suriah di pengungsiannya.

Maka, setelah janjian lewat telepon, pagi itu juga kami mengunjungi Ustadz Felix. Wajahnya sumringah, habis dideportasi malah kedatangan sahabat-sahabat. Setelah taaruf singkat, Allah teteskan perasaan langsung dekat di antara kami.

Da’i muda ini langsung mengangguk saat diajak menjenguk anak-anak yatim Suriah.

Dengan izin Allah di tim itu ada dua ustadz lain, Ustadz Musthafa Umar dari Pekanbaru yang selalu disebut oleh Ustadz Abdul Somad sebagai “abang saya”, dan Ustadz Abdullah Soleh Hadrami dari Malang, salah seorang murid langsung Syaikh Muhammad Ibn Utsaimin.

Jadi, di tim relawan Sahabat Al-Aqsha itu ada kombinasi ukhuwwah zaman now yang wuihhh banget. Yang satu Ustadz Felix Hizbut Tahrir (waktu itu), yang satu Ustadz Musthafa Al-Azhari (sebutan untuk lulusan Universitas Al-Azhar), Asy-Syafi’iy (bermadzhab fiqh Imam Syafi’i), yang terakhir Ustadz Abdullah salafi lulusan Saudi yang sudah mendarah daging kecintaannya kepada para Salafush Shalih.

Kami di Sahabat Al-Aqsha sudah membayangkan, “Wih, Hizbut Tahrir ketemu Salafi, bisa-bisa ada yang dipaksa turun saat pesawat masih di langit nih…” bisik salah satu dari kami sambil nyengir-nyengir.

Maka, sepanjang safar itu terjadilah perdebatan-perdebatan ilmiah yang terkadang lumayan keras. Ustadz Abdullah menyodok, Ustadz Felix menangkis, Ustadz Musthafa senyum-senyum sambil berdzikir.

Ustadz Felix meledek, Ustadz Abdullah meledak, Ustadz Musthafa mengademkan.

Ustadz Abdullah melempar, Ustadz Felix tangkap, balas lempar lebih keras, Ustadz Musthafa geleng-geleng. Alhamdulillah ketiganya orang-orang santun dan beradab. Sekeras apapun perdebatannya, tak satupun keluar kata-kata yang menghina pribadi atau kelompoknya masing-masing.

Alhamdulillah, relawan-relawan SA yang ada dalam tim itu juga sudah terbiasa melayani para ustadz dari berbagai aliran persilatan ilmu itu, jadi ya nyantai saja..

Bahkan ada kode jenaka yang tanpa sengaja mereka sepakati. Setiap kali perdebatan sudah memuncak ketegangannya, tiba-tiba salah satu dari mereka akan langsung menyodorkan buah ke masing-masing ustadz, “Ayo makan buah dulu, buah dulu, buah dulu….” Masing-masing ustadz yang sedang ngotot itu lalu mengupas buah dan saling memberikan kepada lawan debatnya. Indah bangeeeeet…..

Setiap ba’da shalat subuh selama safar kita saling bertaaruf. Di situlah para ustadz ini kemudian mengenali pribadi mereka secara lebih mendalam satu sama lain.

Wajah-wajah yang tadinya tegang karena “perbedaan” fikrah, menyantai setelah mendengar kisah-kisah lucu semasa kecil dan remaja.

Ustadz Felix menceritakan detail-detail kisahnya jatuh cinta dengan Islam saat kuliah di Institut Pertanian Bogor, setelah puluhan tahun dididik untuk selalu curiga dan sinis kepada Pribumi Muslim di kampungnya di Palembang.

Ustadz Abdullah menceritakan kisahnya ngangsu kaweruh dari Almarhum Syaikh Utsaimin, yang menurutnya kepribadian ulama Saudi itu lembut dan berpikiran terbuka siap menerima perbedaan-perbedaan pendapat.

Ustadz Musthafa mengisahkan kehidupan belianya saat belajar langsung dari almarhum Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi yang legendaris itu.

Pelan-pelan Allah satukan hati ketiga ustadz kita ini terutama setiap kali diingatkan pentingnya bergandeng tangan membantu keluarga-keluarga kita membebaskan Masjidil Aqsha.

Hati ketiga ustadz ini semakin meleleh selama safar, setiap kali bertemu anak-anak pengungsi terutama anak-anak yatim Suriah.

Di mana lagi tempat untuk berdebat, saat anak-anak balita yang ayah-ayahnya dibunuhi tentara rezim Basyar Assad berjalan pelan-pelan, lalu merebahkan tubuh-tubuh mungilnya di pangkuan para ustadz ini?


Ust. Felix Siauw dan Ust. Abdullah Hadrami.

Kelak, dan sampai hari ini, ketiganya adalah relawan sekaligus Penasihat Sahabat Al-Aqsha. Oleh Ustadz Musthafa Umar, Ustadz Felix Siauw juga dipersaudarakan dengan Ustadz Abdul Somad yang sedang masyhur. Di salah satu ceramahnya, Ustadz Abdul Somad yang anggota Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama Provinsi Riau ini mengisahkan kedekatannya dengan Ustadz Felix, “Bangga kali awak, dijemput mengisi pengajian di Jakarta dengan Pajero Sport. Apalagi yang menjemput itu Ustadz Felix Siauw. Dia itu Akhi, Saudaraku!!!”

Ustadz Abdul Somad (kanan) dan Ustadz Felix Siauw (kiri) 
Wahai seluruh hati, berpeganglah kuat-kuat pada tali Allah, berlemah lembutlah kepada saudaramu sesama Muslim, bersikap tegaslah pada kejahatan kufr dan syirik.

Semoga Allah melayakkan kita masuk dalam kategori mereka yang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam “Muhammadur Rasulullaah.. alladziina ma’ahu asyiddaa’u ‘alal kufaari ruhamaa’u bainahum..” (Sahabat Al-Aqsha)

Dikutip dari: Sahabatalaqsha dengan perubahan judul
Foto-foto: sahabatalaqsha.com

Share:

November 6, 2017

Rahasia Ustadz Felix Oleh Gus Nur


video: youtube - Serambi Aswaja

Gema Indonesia - Penceramah sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an dan Majelis Dzikir “Karomah 13” di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Gus Nur membocorkan rahasia Ustadz Felix Siauw yang belum pernah terungkap: siapa yang membiayai?

Seperti dikutip ngopibareng, dalam berdakwah misalnya, Ustadz Felix tak menentukan tarif. Naik pesawat ke penjuru tanah air juga uang sendiri. Mobilnya pun, mewah dan baru. Dapat dari mana?

Menurut Gus Nur, melalui videonya yang baru diunggah di akun facebook pribadinya, Ustadz Felix tak dibiayai pihak luar.

“Sabar ya Ustadz Felix, sabar, antum ini China, antum ini sipit, tapi antum muallaf, antum Muslim, antum pendakwah, dan antum gak pernah pasang tarif kalau dakwah. Sekarang diperlakukan seperti ini, sabar ustadz.” kata Gus Nur membuka videonya.

Gus Nur menyebut kisah Ustadz Felix ini seperti kisah Rasulullah dan Pamannya yang non Muslim. Oh ya? Seperti apa?

“Aku kenal Ustadz Felix, aku pernah satu mobil sama Ustadz Felix. Ustadz Felix punya mobil mewah itu bukan hasil dari dakwah. Mobil itu dibelikan Papanya yang memfasilitasi dakwah. padahal Papanya Non-Muslim," jelas Gus Nur.

Papanya ini, terang Gus Nur, minta Ustadz Felix jangan pernah narik tarif ataupun terima upah saat berdakwah, biar Papanya saja yang membiayai. "Jadi semua biaya pengajian ditanggung Papanya, aku jadi teringat Rasulullah dengan pamannya (paman Rasul adalah seorang Non-Muslim)," terangnya.

Dan terbongkarlah sudah siapa yang membiayai Ustdz Felix Siauw dalam berdakwah, tak lain, Papanya sendiri.

Dikutip dari beritaislam24h dengan perubahan judul
Share:

November 5, 2017

Ketakutan Para Nabi Pascahari Kiamat, Kecuali Satu Nabi

foto: merdeka.com
Gema Indonesia - Setelah hari berbangkit dan orang-orang dikumpulkan di Padang Mahsyar, mereka akan sibuk memikirkan dirinya sendiri, tak terkecuali para Nabi. Mereka sibuk menyelematkan diri mereka dari siksaan nereka. Namun, ada satu Nabi yang saat itu dimintai pertolongan, beliau adalah Nabi Muhammad SAW.

Abu Hurairah menuturkan bahwa suatu hari, dirinya berdoa bersama Rasulullah SAW dan sejumlah sahabatnya. Sekonyong-konyong sebuah hasta (kaki) kambing disodorkan ke hadapannya, Nabi SAW memang menyukainya. Kemudian beliau menggigitnya seraya berkata, “Aku penghulu manusia di hari kiamat. Apakah kalian tahu, apa sebabnya Allah SWT mengumpulkan semua manusia, sejak generasi pertama hingga generasi terakhir di satu tempat?”

Dikisahkan dari Ensiklopedia Alquran, para sahabat tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan rasul. Maka, Beliau melanjutkan ceritanya. “Lalu seorang memandang dan mendengar seruan mereka, dan matahari semakin mendekat ke arah mereka. Tak ayal , mereka pun kepanasan dan menanggung kesulitan yang tak sanggup diemban.”

“Mereka berkata, ‘Tahukah kalian apa yang sedang kita alami? Tahukah kalian apa yang sedang kita hadapi ? Tahukah kalian orang yang dapat meminta syafaat kepada Tuhan buat kita?’ Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Bapak kita, Adam.’”

Disabdakan oleh Nabi SAW bahwa mereka lalu mendatangi Adam dan berkata, “Wahai Adam, bapak umat manusia. Allah SWT menciptakanmu dengan Tangan-Nya, meniupkan roh-Nya ke dalam dirimu, memerintahkan para malaikat untuk bersujud, dan menempatkanmu di surga. Maukah engkau memintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami? Tahukah kamu apa yang kami alami dan menimpa kami saat ini?”

Adam menjawab, “Sesungguhya, Tuhanku sangat marah pada hari ini. Dia tidak pernah marah seperti itu sebelum dan sesudahnya.  Dia pernah melarangku mendekati pohon, namun kulanggar. Aku sibuk mengurusi diriku sendiiri. Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Nuh!”

Mereka pun mendatangi Nuh dan berkata, “Wahai Nuh, engkau addalah Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi. Allah SWT menilaimu sebagai hamba yang banyak bersyukur. Tahukah engkau apa yang menimpa kami saat ini? Maukah engkau memintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami?”

Nuh menjawab, “Sesungguhnya, hari ini Tuhanku sangat marah. Dia tidak pernah marah seperti itu sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya aku punya doa yang telah kuserukan supaya Tuhan menghukum kaumku. Aku sibuk mengurusi diriku sendiri. Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Ibrahim!”

Doa yang dimaksud Nabi Nuh AS ialah doa yang dipanjatkan ke hadirat Allah SWT saat dirinya marah kepada kaumnya yang mendustakannya serta menyatakan tetap dalam kekufuran. Setelah doa itu dipanjatkan Nuh, terjadilah banjir yang sangat dahsyat, sebagaimana diabadikan dalam dua ayat berikut:

Dan Nuh berkata, “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat durhaka (maksiat) lagi kafir.’” (QS. Nuh:26-27)

Kemudian mereka pun mendatangi Ibrahim dan berkata, “Wahai Nabi Allah dan kekasih-Nya, mintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami. Tahukah engkau, apa yang kami alami saat ini?” Ibrahim menjawab, “Tuhanku sangat marah hari ini. Dia tidak pernah marah seperti itu sebelum dan sesudahnya. Aku pernah berdusta tiga kali. Aku sibuk mengurusi diriku sendiri. Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Musa!”

Lalu mereka mendatangi Musa dan berkata, “Wahai Musa, Allah SWT melebihkanmu dengan risalah dan kalam-Nya dibandingkan manusia lain. Mintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami. Tahukah engkau, apa yang kami alami saat ini? Musa berkata, “Tuhanku sangat marah hari ini. Dia tidak pernah marah seperti itu sebelum dan sesudahnya. Aku pernah membunuh jiwa yanng sebenarnya dilarang. Aku sibuk mengurusi diriku sendiri.”

Mereka lalu mendatangi Isa AS dan berkata, “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah dan kalimat-Nya disampaikan kepada Maryam serta roh dari-Nya. Engkau juga dapat berbicara saat masih dalam buaian. Mintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami.”

Isa menjawab, “Tuhanku sangat marah hari ini. Dia tidak pernah marah seperti ini sebelum dan sesudahnya. Aku sibuk mengurusi diriku sendiri. Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Muhammad!”

Maka, mereka pun mendatangi Nabi Muhammad SAW dan berkata, “Wahai Nabi Allah, Muhammad engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah SWT mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Mintakanlah  syafaat kepada Tuhanmu untuk kami. Tahukah engkau, apa yang kami alami saat ini?”

Maka, Nabi Muhammad SAW bertolak hingga sampai di bawah Arsy.’ Beliau bersimpuh sujud kepada Allah.

"Kemudian Allah SWT membuka pintu  hatiku untuk memuji-Nya yang belum pernah dilakukan kepada seorang pun sebelumku," kata Nabi.

Maka Allah berkata, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, niscaya permintaanmu akan dikabulkan; dan syafaatilah, niscaya syafaatmu akan diterima.”

Lalu aku mengangkat kepalaku seraya berucap, “Umatku, wahai Tuhanku, umatku! Wahai Tuhanku, umatku.”

Lalu dijawab oleh Allah SWT, “Wahai Muhammad, masukkanlah umatmu yang tidak dihisab melalui pintu surga sebelah kanan.”

Rasulullah SAW mengakhiri sabdanya kepada para sahabat dengan mengatakan: “Demi Zat yang jiwaku ada di tangannya, jarak antara kedua daun pintu surga itu seperti jarak antara kota Makkah dan kota Bushra (sebuah kota di Syam di Suriah).” (HR. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)


Dikutip dari Republika

Share:

Pernyataan Ustadz Felix Siauw Usai Pengajiannya Dibubarkan

Ustadz Felix Siauw dan Ulama Pasuruan (foto: surabayapost.net)
Gema Indonesia - Kajian atau pengajian Ustaz Felix Siauw di Bangil, Kabupaten Pasuruan, mendapat penolakan dari ormas (organisasi masyarakat) Banser. Felix dinilai anti Pancasila, sehingga pengajian yang dilaksanakannya tidak pantas.


Menanggapi itu, Ustaz Felix Siauw punya menyanggahnya. Berikut bantahan Felix Siauw.

Kepada Jamaah Masjid Manarul Islam Bangil

Pertama-tama, saya mengucapkan jazakallahu khairan katsiran, jazakallahu bil jannah, semoga Allah berikan balasan berupa surga bagi jamaah yang hadir di Masjid Manarul Islam

Sejatinya saya sudah berada disana sejak pukul 08.00, hanya saya dipaksa meninggalkan Masjid oleh pihak polres, dengan alasan ada ormas yang mendemo di depan Masjid

Saya paham yang hadir di Masjid kesemuanya adalah ummat yang Allah pilih, yang dicintai Allah dan juga mencintai Allah, tak takut apapun dan tak berharap apapun kecuali Allah

Begitu juga semua gabungan laskar-laskar Islam yang sudah bersiap sedia, dengan jumlah dan kekuatan Allah pinjamkan pada mereka, semoga Allah saksikan keberpihakannya

Saya sudah sampaikan sedari awal, saat muncul penolakan dan fitnah serta tuduhan kepada saya oleh segelintir orang, bahwa yang saya cari ridha Allah, apapun kondisinya

Saya serahkan semua pada panitia, jika panitia suka, apapun saya akan penuhi. Hanya panitia sangat ditekan oleh pihak berwenang, akhirnya memutuskan membatalkan

Sempat terjadi ketegangan antara gabungan laskar yang lalu menyusul saya dengan pihak kepolisian. Mereka meminta dengan sopan 2 menit saja saya bisa menyapa jamaah

Namun pihak kepolisian bergeming, demi menjaha kamtibmas, segelintir ormas yang memprotes lalu dimenangkan, dan kajian harus dibatalkan, saya tidak boleh kembali ke Bangil

Bahkan ketika ayahanda kami, KH Nurcholish Mustari, tokoh Bangil yang sekaligus sesepuh, datang dengan tongkatnya, pun tak bisa melunakkan hati pihak kepolisian

Subhanallah, Allah yang melapangkan hati mereka, dan juga melembutkan lisan dan amal mereka, kedzaliman itu mereka terima, dan sayapun dengan berat hati pergi dari Bangil

Para pembubar kajian berteriak gembira, riang bak menang perang, lalu mengunggah berita kemana-mana dengan versi mereka sendiri, memelintir dan memfitnah

Karenanya saya akan tuliskan kejadian sebenarnya, agar teman-teman tahu, siapa yang mencintai agama ini, ummat ini, yang selalu merindu berada diatas jalan dakwah. (Junaidi)

Dikutip dari: Surabayapost
Share:

Daftar Berita

Blog Archive

Theme Support